Mengapa Seorang Leader Selalu Mengutamakan ‘Rasa Aman’

Di setiap organisasi, loyalitas karyawan dan kesediaan melakukan yang terbaik adalah hal penting. Namun hal ini sering susah dilakukan. Hanya segelintir karyawan yang mau benar-benar melakukannya. Iming-iming bonus juga belum menjamin itu semua.

Bukan soal gaji, sejatinya, pemimpin adalah kuncinya. Sayangnya masih cukup banyak pemimpin yang melupakan hal-hal ‘sederhana’ berikut:

Tugas utama pemimpin: memberikan rasa aman (all the time)

Sebagai makhluk sosial, kita akan merasa aman di antara sesama kita. Pemimpin harus bisa menciptakan ruang dimana tak saling curiga. Maka, di sinilah reaksi alami yang muncul adalah rasa percaya dan kerjasama.

Analoginya, dalam sebuah rombongan, seseorang akan merasa aman tidur di hutan saat teman lainnya mengawasi jika ada bahaya. Jika tak ada yang saling mempercayai, maka tak ada orang yang akan melakukan terbaik dari mereka.

Terbayang apa yang bisa dilakukan sebuah organisasi, ketika rasa percaya adalah mesin utama mereka?

 

Menjadi pemimpin = menjadi orang tua.

Orang tua selalu memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya.

Mereka akan menemani anaknya belajar hingga larut malam, mereka akan menanyakan kondisinya di sekolah saat mereka tidak bisa mengawasi anaknya, dan mereka, juga merayakan setiap pencapaian anaknya, dengan penuh cinta.

Sayangnya, jarang sekali pemimpin melakukan ini untuk timnya.

Prinsip ini bisa (dan perlu) diterapkan pada hubungan pemipin dan karyawan dalam organisasi.

Saat ada masalah, pemimpin yang baik tak memecat karyawan. Mereka justru mampu memberikan kesempatan, pendidikan dan membangun rasa percaya diri para karyawan.

Pemimpin yang baik juga akan membantu bawahan mencapai lebih dari yang mereka sendiri bayangkan.

Jika karyawan punya masalah, perusahaan akan melatih dan mendukungnya. Hal yang sama dilakukan oleh orang tua pada anakya. Karena orangtua tak akan bisa memecat anaknya sampai kapanpun.

Tidak mengganti karyawan yang tidak cocok memang sulit, namun mindset leader = orang tua memang selayaknya dijalankan. Jika Anda mau melakukannya untuk anak Anda, mengapa tidak untuk tim Anda?

 

Membentuk loyalitas karyawan bukan dengan membuat mereka takut. Tapi jadi pemimpin yang rela berkorban.

Otoritas terkadang menjadi bumerang. Pemimpin seringkali ingin mendapatkan loyalitas dengan menciptakan rasa takut dan berkuasa.  Namun ini bisa berujung kontraproduktif, apalagi jika karyawan harus memikirkannya tiap kali mereka berangkat ke kantor.

Jika ingin karyawan melakukan lebih, jadilah pemimpin yang mau mengorbankan kepentingan diri sendiri demi karyawan, be there for them. Rasa saling menolong sudah ada di dalam diri manusia, jadikan ini sebagai kebiasaan baru kita ketika berinteraksi dengan karyawan. Meskipun sebagai leader punya otoritas, bukan berarti kita harus terus meminta, mulai dengan memberi (pertolongan). Sudah jadi rahasia umum bahwa kepercayaan dibangun dari saling memberi, secara konsisten.

Ketika orang-orang merasa percaya dan terlindungi oleh para pemimpin, karyawan akan menjadi lebih loyal dan kooperatif.

Pemimpin yang baik tidak akan mengorbankan orang lain untuk menyelamatkan angka. Justru sebaliknya, mereka akan mengorbankan angka demi menyelamatkan orang.

 

Kepemimpinan adalah pilihan. Bukan peringkat.

Saat ini, betapa banyak para petinggi organisasi yang ‘bisa jadi’ bukan seorang pemimpin. Mereka adalah orang yang punya otoritas untuk menyuruh apa yang harus karyawan lakukan.

Justru banyak orang di jajaran bawah yang tak memiliki otoritas tapi punya jiwa pemimpin. Mereka menjaga orang-orang di kanan kiri mereka. Mengorbankan dirinya untuk orang lain.

Pemimpin adalah orang yang mau mengambil risiko sebelum orang lain.

Pemimpin adalah orang yang mau berkorban agar bawahan mereka aman dan terindungi.

Dan pemimpin adalah orang yang mengusahakan agar setiap orang orang yang berinteraksi dengan dia bisa meraih manfaat, terlebih lagi timnya sendiri.

Di titik ini, karyawan akan mau berkorban untuk organisasi. Mereka akan berkorban dan mewujudkan visi pemimpin mereka. Dan jangan kanget kalau karyawan menjadi sangat loyal di luar dugaan.

 

Leader isn’t doing something ‘to’ people, but he’s doing something ‘for’ people..



Leave a Reply

18 + 4 =