Memilih Yang Paling Benar Di Antara Benar Dan Benar

Jika Anda adalah seorang leader, Anda pasti ingin tim bisa melakukan yang terbaik untuk organisasi Anda. Sebagaimana orang tua yang membesarkan anaknya, Anda pasti mengajari anak Anda untuk memilah-milah hal baik yang harus dilakukan dan juga hal buruk yang seharusnya tidak dilakukan.

Namun, tahukah Anda bahwa memiliah-milah dan menemukan yang ‘terbaik’ dari yang ‘cukup baik’ itu adalah skill yang cukup langka, bahkan di kalangan profesional?

 

Memilah & Memilih

Katakanlah anak Anda mempunyai kemampuan membuat kerajinan gips. Ia lalu berniat untuk menjadikan hobinya sebagai bisnis menjual gips. Bukankah hal itu baik?

Ya, namun, harus dipertimbangkan dulu bahwa pembuatan gips sendiri membutuhkan waktu berjam-jam. Sementara, anak Anda masih harus pergi ke sekolah dan menyelesaikan tanggung jawabnya sebagai murid. Apakah Anda akan membiarkan anak Anda memulai bisnis itu? Tentunya tidak, karena kita tahu hal tersebut akan menjadi hal yang kontra produktif. Bukannya menghasilkan untung, anak Anda mungkin menjadi tidak fokus sekolah.

Mungkin benar, dengan membuat gips itu sendiri, anak Anda akan membutuhkan modal yang lebih sedikit dan menghasilkan keuntungan yang lebih banyak, dibandingkan dengan cara kulakan. Namun, waktu berjam-jam yang akan terbuang tidakkah lebih baik digantikan dengan cara kulakan ke pedagang gips yang menjual barangnya 10 ribu rupiah dan bisa di jual lagi 20 ribu rupiah? Tidak hanya sama-sama menguntungkan, cara ini pun pastinya akan lebih efektif dan efisien.

Begitu pula hal yang harus selalu Anda ingatkan kepada sesama leader, maupun tim Anda: “tanyakan ulang apakah yang akan Anda lakukan merupakan pilihan terbaik”.

 

 

Seringkali karena kita ingin segera mengerjakan, atau karena terkesima dengan sebuah ide, kita jadi melewatkan opsi terbaik lainnya, dan hal ini akan menjadi kontra-produktif. Karena pastinya (jika kita mau memikirkannya sebentar saja) ada hal yang lebih baik untuk dilakukan, yang lebih efektif dan efisien. Dengan selalu mencoba menanyakan ulang pada diri sendiri, kita pasti akan terdorong untuk mencari dan melakukan sesuatu yang justru lebih baik lagi. Dengan cara inilah, Anda bisa mendorong rekan Anda pada pencapaian maksimal mereka.

Berikut beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk membantu menanamkan ide ini kepada rekan Anda:

Berikan kesempatan untuk bertukar pikiran dan konsultasi

Seringkali kita jumpai orang yang mempunyai ide-ide brilian, namun masih terhambat untuk menjalankannya. Orang seperti ini biasanya adalah orang yang selalu tinggal dalam comfort zone nya karena mereka menganggap hal itu lebih aman dan “cukup baik”. Ada juga orang yang memang benar-benar menjalankannya, namun tanpa pertimbangan yang matang karena hanya melihat sisi “cukup baik” suatu bisnis saja seperti si anak diatas. Alhasil, mereka terkadang stuck diposisi hidup mereka yang begitu-begitu saja.

Mungkin Anda punya teman atau karyawan yang seperti ini, doronglah mereka untuk lebih terbuka menceritakan ide-ide atau masalah yang sedang dihadapi. Siapa tahu Anda bisa memberikan pertimbangan dari perspektif yang berbeda, yang belum bisa mereka lihat. Leader yang baik pasti tidak keberatan untuk mendengarkan dan menjawab pertanyaan yang datang dari sesama rekan kerja, apalagi karyawan dengan tujuan menginspirasi satu sama lain. Siapa tahu Anda bisa membantu mereka mencapai hidup  yang lebih baik.

 Berikan variasi bentuk reward kepada tim Anda

Semua orang pasti akan senang ketika diberikan imbalan atas kerja kerasnya. Dan reward yang nyata, yang jelas sekali bahwa bisa tercapai, akan membuat kita memompa usaha ke titik maksimal. Namun ini yang menarik, ketika kita berpikir bahwa ada reward tahap 2 (reward yang jauh lebih baik lagi, lebih bervariasi, dan lebih personal setelah reward pertama), secara tidak langsung kita akan jadi lebih detail, jauh lebih menyelami opsi-opsi yang ada, agar kita bisa mencapai reward tahap 2 tersebut. Dengan kata lain, kita akan lebih sadar dengan kemungkinan-kemungkinan yang bisa jadi lebih baik lagi dalam hal mengerjakan tugas.

Konsep reward bertahap ini tidak hanya bisa Anda sampaikan ke rekan dan tim, tapi juga bisa Anda tanamkan untuk diri sendiri. Sejatinya ini adalah salah satu penerapan sebuah ‘dreambook’ dalam lingkungan pekerjaan yang membuat Anda & tim Anda jauh lebih kritis dalam memilah, memilih, dan melaksanakan pilihan yang ada.

Jadi, perlu diingat sekali lagi, mengapa semua hal sebaiknya dipertimbangkan kembali? Karena apa yang kita pikirkan pertama kali bisa jadi sesuatu yang kontra produktif. Karena pastinya ada hal yang lebih baik untuk dilakukan, yang lebih efektif dan efisien. Dengan pertimbangan yang matang (yang semakin sering, semakin cepat kita dalam memutuskannya), pilihlah hal yang paling benar diantara hal-hal yang benar sebelum Anda mengambil suatu keputusan.

 



Leave a Reply

19 − 4 =