Memahami Fenomena Disruption di Era Transformasi Digital

Disruption menjadi topik yang marak diperbincangkan akhir-akhir ini, tapi sebenarnya teori disruption ini pernah dipublikasikan oleh Clayton M. Christensen, seorang guru besar di Harvard Business School, di tahun 1997. Mengapa baru sekarang orang tertarik akan hal ini ? Mungkin karena dampak yang ditimbulkan dari disruption begitu masif sehingga semua orang dari berbagai bidang dan kalangan merasakannya.

 

Pengertian Disruption

Anda tentu ingat ketika dunia perhotelan digemparkan dengan hadirnya AirBnB yang menyediakan jaringan penginapan di lebih 100 negara tanpa memiliki satupun gedung penginapan.

Di Indonesia, kehadiran transportasi berbasis aplikasi online juga menimbulkan perubahan yang cukup signifikan dalam kehidupan masyarakat. Namun, supir angkot, metromini, ojek pangkalan penghasilannya menurun drastis dan bahkan perusahaan taksi besar sekelas Blue Bird mengalami penurunan profit yang fantastis.

Disruption terjadi ketika suatu pihak menawarkan layanan yang lebih praktis dengan harga yang lebih rendah dari yang tersedia saat ini, sehingga masyarakat banyak yang beralih ke layanan baru tersebut. Disruption  merupakan Inovasi.

 

Kaitan Antara Disruption dan Era Transformasi Digital

Masa sekarang informasi mengalir begitu cepat dan perilaku konsumen pun mengalami perubahan. Oleh karena itu, perusahaan dituntut untuk bisa beradaptasi serta merespon perubahan secara cepat pula. Transformasi digital kemudian menjadi solusi untuk menjawab tantangan ini.

Banyak yang beranggapan bahwa transformasi digital berarti going digital dengan membuat website, akun media sosial, atau mobile application perusahaan. Hal tersebut tidak sepenuhnya salah. Transformasi digital memiliki cakupan yang lebih luas, termasuk perubahan model dan strategi bisnis, customer engagement, hingga budaya perusahaan.

 

 

Menghadapi Disruption

Kuncinya adalah inovasi dan transformasi. Untuk bisa bertahan, suatu produk/perusahaan/organisasi harus tetap relevan dalam melakukan inovasi. Bukan hanya industri maupun organisasi, tapi juga untuk setiap individu. Jika Anda tidak melakukan transformasi dengan terus meningkatkan kualitas diri, Anda juga mungkin akan ikut tergerus oleh arus disruption.

 



Leave a Reply

fourteen − thirteen =