Ketaqwaan Dan Solidaritas Kita dalam Idul Adha

 

Idul Adha pada setiap tanggal 10 Dzulhijjah dikenal juga dengan sebutan “Hari Raya Haji”, dimana kaum muslimin yang sedang menunaikan ibadah haji yang utama, yaitu Wukuf di Arafah.

Mereka menggunakan pakaian yang disebut ihram, yaitu kain serba putih dan tidak berjahit yang melambangkan persamaan akidah dan pandangan hidup.

Idul Adha juga dinamakan “Idul Qurban”, Karena pada hari itu Allah memberi kesempatan kepada kita untuk lebih mendekatkan diri kepada-Nya.

Bagi umat muslim yang belum mampu untuk melakukan ibadah haji, maka diberi kesempatan untuk berkurban, yaitu dengan menyembelih hewan qurban sebagai simbol ketakwaan dan kecintaan kepada Allah SWT.

Idul Adha dinamai juga dengan “Idul Nahr”, yang berarti hari raya penyembelihan. Hal ini untuk memperingati ujian terberat yang menimpa Nabi Ibrahim.

Allah menguji iman dan taqwa Nabi Ibrahim melalui mimpinya, agar ia mengorbankan putranya, Nabi Ismail, yang saat itu masih berusia 7 tahun untuk dikorbankan dan disembelih dengan menggunakan tangannya sendiri.

Namun Maha Besar Allah, saat Nabi Ibrahim sudah mantap melakukan tugasnya, Allah kemudian menebus pengorbanan Nabi Ibrahim dengan mengganti seekor kambing sebagai korban.

Dari peristiwa tersebut, kita bisa mengambil dua pelajaran. Yang pertama adalah ketaqwaan, yaitu ketaatan seorang hamba kepada Sang Pencipta dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya.

Kedua, rasa persaudaraan antar sesama umat manusia. Dengan berkurban, kita bisa berbagi dengan kaum tak berpunya dan menjaga diri dari keserakahan duniawi.

Maka, mari jadikan momen Idul Adha ini sebagai momen berserah diri kepada yang kuasa dan mempererat solidaritas dengan sesama.

Selamat Hari Raya Idul Adha 1439 H..



Leave a Reply

three × 3 =