5 Pilar Dalam Melatih Karyawan

Kinerja mungkin adalah satu-satunya yang paling berharga dalam sebuah bisnis karena kinerja adalah hal pertama yang mempengaruhi hasil sebuah perusahaan.

Kita semua setuju bahwa kinerja sebuah organisasi dipengaruhi oleh kinerja tim, dan kinerja tim dipengaruhi oleh kinerja personal. Dan kita semua setuju bahwa ‘berlatih’ adalah satu-satunya cara mengembangkan kemampuan dan pada akhirnya meningkatkan kinerja.

Pertanyaanya: Bagaimana cara berlatih tadi? Bagaimana jika kita ingin melatih karyawan kita?

Diangkat dari buku Beyond Talent oleh John C. Maxwell, 5 variabel berikut akan membantu Anda dalam melatih dan mencetak superstar baru dalam perusahaan Anda.

Guru atau pelatih yang unggul

Hal pertama yang perlu kita sadari adalah mereka yang sudah menjadi karyawan super seringkali memiliki latar belakang yang menunjang. Kita bisa bilang itu karena pendidikan, atau pengalaman, atau bahkan lingkungan, namun kosakata yang lebih tepat di sini mungkin adalah ‘influence’. Masing-masing yang disebutkan sebelumnya memiliki pengaruh dalam perkembangan pribadi, namun yang bisa memberikan pengaruh secara langsung dan masif adalah adanya mentor. Mentor yang berinteraksi secara langsung dan memberikan contoh yang menginspirasi, serta memberi arahan jelas bagaimana seseorang dapat mencapai impiannya.

Mentor yang baik adalah yang mampu memahami personal timnya, yang tahu apa yang jadi kekhawatiran dan mimpi timnya. Kemudian seorang mentor akan selalu menyempatkan waktunya untuk memberi arahan yang jelas, disesuaikan dengan siapa yang dia latih. Apakah mereka lebih mengandalkan otak kiri atau otak kanan, apakah lebih suka visual atau verbal, atau bahkan lebih berkembang ketika diberi pujian atau cercaan.

Sebagai leader, rekan kantor, dan sebagi teman, kita seringkali melihat tim kita dari apa yang sudah mereka lakukan. Tapi a good mentor, selalu melihat dari siapa mereka dan apa yang bisa mereka lakukan untuk mereka.

Be a good mentor, dan kinerja tim akan meningkat, tajam.

Usaha yang terbaik

“Anda tidak dapat mendorong siapapun memanjat tangga kecuali orang itu memang ingin memanjat sendiri” – Andrew Carnegie.

 

Sehebat apapun kita menjadi guru, pelatih, atau mentor, yang jadi pemicu bagi seseorang untuk mau dan bisa berkembang pesat adalah diri mereka sendiri.

Dilengkapi dengan fasilitas, mentor, waktu dan kesempatan yang luang pun, jika tidak didasari dari motivasi pribadi, hasil dari latihan tidak akan berpengaruh besar. Kami sempat menjelaskan di artikel kami sebelumnya, bahwa manusia biasanya berubah karena tiga alasan: 1) ketika kita saling sharing dan cerita dari sesama memiliki pengaruh pada kita, dan kita menemukan motivasi tersendiri, 2) saat kita melihat sebuah contoh, bukti, yang nyata, bahwa sesuatu yang luar biasa juga bisa dilakukan, 3) saat kita mengalami sebuah peristiwa (baik yang positif maupun negatif) dan memberikan dampak personal sehingga kita menemukan motivasi. Dari ketiga alasan tersebut, yang terakhir lah yang paling sering memberi dampak perubahan.

Jadi, mulai melatih karyawan¬† dengan mencoba mencari-cari suatu peristiwa yang dapat memicu motivasi pribadi mereka, dalam pelatihan kami ini yang kami sebut dengan experiential learning. Apakah harus? Akan lebih baik jika berhasil menemukan peristiwa tersebut karena pelatihan yang sukses memerlukan ‘best effort’ dari yang dilatih, dan itu biasanya dimulai dari motivasi pribadi.

Tujuan (pelatihan) yang jelas

Dari kacamata perusahaan, ketika ada karyawan baru, misal di posisi Customer Service, maka seringkali kita langsung terpikir untuk mengikutkannya pada pelatihan komunikasi atau service excellent. Pertanyaannya: apakah hal itu benar-benar membuat CS baru kita akan lebih ramah, murah senyum dan menikmati berinteraksi dengan orang asing?

Beberapa orang memiliki karakter yang ramah dan suka berinteraksi namun mungkin kurang dalam komunikasi yang formal, ada juga yang memiliki kemampuan komunikasi yang bagus namun sering ‘moody’ sehingga terkadang mengganggu interaksi dengan customer.

Pelatihan yang baik adalah yang mampu menjadikan tim kita menjadi versi terbaiknya.

Jika tim kita adalah yang tipe ‘moody’, penyebabnya bisa macam-macam, bisa jadi juga karena keuangan pribadi, hubungan, atau faktor lain. Maka sedikit sharing atau pelatihan terkait keuangan akan jauh lebih membantu dia menjadi CS yang baik dibandingan pelatihan komunikasi yang seminggu sekalipun.

Potensial mereka yang dilatih

Pernahkah kita memperhatikan dua orang dalam tim berlatih dengan fokus, upaya, dan tujuan yang sama, bahkan dengan pelatih yang sama, namun memiliki hasil yang sangat berbeda?

Intensitas latihan yang sama bukan berarti hasil yang sama pula. Tidak bisa dipungkiri bahwa potensi seseorang memiliki pengaruh yang sangat besar pada hasil akhir sebuah pelatihan.

Maka jika kita ingin mencetak calon pemimpin baru, jawaban tercepatnya adalah menemukan mereka yang memiliki potensi memimpin. Bukannya mencoba untuk pilih kasih, namun memang akan jauh lebih mudah melatih mereka di bidang yang menjadi potensi terbesar mereka.

Sebaliknya kepada tim kita, kita harus selalu menyemangati mereka untuk menemukan potensi terbesar mereka, dan segera mulai melatihnya. Karena jika mereka mengabaikannya, besar kemungkinan potensi tersebut akab hilang.

Cepat temukan potensi tim, dan cepat melatihnya, maka perusahaan pun juga akan merasakan pengkatan kinerja yang luar biasa.

Sumber daya yang tepat

Saat kita berhasil menjadi mentor yang baik, merencanakan metode pelatihan dan tujuannya yang jelas, bahkan ketika disertai dengan trainee yang sangat termotivasi, masih ada hal yang kurang: ‘sumber daya yang tepat’.

Jika buku adalah yang dibutuhkan dalam pelatihan yang kita rencanakan, maka berikanlah akses pada ribuan buku. Jika laboratorium adalah yang dibutuhkan untuk bereksperimen, maka harus segera kita carikan. Jika role-play adalah cara yang tepat, maka kita harus memberi kemudahan untuk bertemu beragam orang kepada trainee tanpa memberi tekanan yang terlalu besar kepada mereka.

Dalam setiap sebuah upaya seseorang memperlukan sumber daya tertentu. Jika kita ingin karyawan menjadi versi terbaik dari diri mereka sendiri, maka kita harus mefasilitasi mereka dengan sumber daya yang akan membantu mereka mencapainya.

 

 



Leave a Reply

eighteen + 12 =